Dari judulnya udah jelas kalau kali ini aku mau bahas topik tentang introvert. Tapi tentang keseluruhannya apa bisa dinilai dari sebaris judul aja? Nggak dong pastinya. Saat menulis ini, aku sedang menyeruput segelas minuman berenergi yang selalu aku seduh di pagi hari. Tapi, kali ini agak berbeda. Karena suasananya cukup tenang dan dingin. Keluarga sedang keluar kota dan anehnya aku sangat anti untuk bertemu orang banyak dan memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah (introver banget kan). Internet pun saat ini sedang aku blokir dalam daftar kegiatanku. Jadi bisa dibilang ini hal tenang yang paling aku suka. Dan karena nggak main internet, rasa bosan bisa disibukkan dengan menyusun kata-perkata untuk blog yang ada kalanya kuhampiri sesekali ini.
Oke, yang pertama tapi bukan pertama banget, aku termasuk dalam bagian dari bentuk kepribadian introver. Entah kapan ini bisa terbentuk, tapi ya sekarang aku adalah seorang introver. Hal-hal yang menandai aku seorang introver yaitu aku sangat menyukai waktu untuk diriku sendiri seperti menonton film dan memainkan musik, juga sesekali membaca buku dan mencari banyak informasi sendiri. Ya intinya suka saat momen sendiri tanpa diusik oleh gangguan lain. Bisa dilihat juga berdasarkan kegiatan sehari-hari, atau gimana sikapku ke orang lain. Contohnya, aku yang kalau ngobrol sama orang mesti nyambung dulu topiknya dan klop baru bisa terbuka. Yang kalau ketemu orang ada rasa canggung di awalnya tapi aku kira ini nggak akan berlangsung lama. Tapi yang perlu banget diperjelas, kalau introver itu bukan pemalu atau anti sosial yang banyak dikasih label sama orang-orang. Kalau seseorang pemalu itu belum tentu dia introver, malah yang ektrover juga ada. Yang jelas introver itu bagian dari kepribadian yang energinya perlu di charge dari diri sendiri. Jadi kesendirian itu membuat dia makin berenergi dan nggak kehilangan dirinya sendiri. Sebaliknya, kalau dia banyak menghabiskan waktu sama orang banyak maka dia akan terkuras energinya dan merasa cepat lelah. Kalau lagi sendiri dia merasa nyaman dan bisa menemukan banyak inspirasi. Tapi nggak dipungkiri introver juga suka bersosialisasi. Banyak juga tokoh berkepribadian introver yang sukses besar di bidangnya, seperti J.K Rowling penulis buku Harry Potter, Albert Einstein seorang ilmuan besar dengan temuan teori gerak relativitasnya, Bill Gates pendiri Microsoft, dan bahkan seorang yang sangat pemalu bisa menjadi pemimpin gerakan kemerdekaan India yaitu Mahatma Gandhi. Mereka mendapatkan ide briliannya dari kesendirian, memfokuskan sebuah hal dengan matang dan melakukan aksi yang luar biasa. Temuannya dikenal mendunia, namanya dikenal banyak orang, dan menjadi orang-orang yang terdaftar kedalam orang tersukses di dunia. Aku salut melihat mereka, introver bangga!
Tapi kadangkala aku sering banget dirugikan oleh diri sendiri lebih tepatnya. Masa disuruh beli makanan ke warung aja mikirnya berjam-jam, kan nggak perlu banget. Alasannya ya memang karena aku males bertemu orang (pedagangnya) hihi parah banget kan. Setelah mikir berjam-jam, aku telah menemukan tujuan yang mendorong aku buat pergi ke warung. Ya karena aku pengen beli suatu makanan yang aku suka! Sepemikir itu kan. Alhasil, aku kena marah ibuku karena lama disuruh belanja. Apa-apa mesti dipikir panjang dulu sampai dapat tujuannya. Ada orang yang ngajak hangout aja perlu mikir dulu nanti disana bakal asyik atau nggak. Yang kalau teleponan bahkan video call sama orang jarang banget atau bisa dibilang anti buat ngelakuin hal kayak gitu, alasannya males aja. Ya tapi itu the real life was I had. Pada intinya seorang introver bisa dibilang terlalu pemikir yang padahal nggak perlu banget juga buat dipikir panjang dan yang diperlukan ya lakuin aja, sesimpel itu sih. Ya kalian juga tahu, suatu hal pasti ada untung ruginya.
Walaupun melakukan kegiatan sendiri sangat nyaman banget buat dilakuin, tetep aja hal itu nggak bikin aku berkembang. Ada kalanya aku harus memberanikan diri untuk bertemu orang baru dengan pemikiran berbeda dan latar belakang beda juga. Berusaha buat nggak terlihat gugup kalau presentasi dan pede aja toh orang lain mandang kita juga biasa aja. Waktu itu aku pernah pergi ke kosan kakakku di Bandung kurang lebih dalam waktu seminggu. Disana aku diajak buat dateng ke acara organisasi sosial dan tentunya banyak teman kakakku yang menyapa juga bertanya tentang diriku. Saat itu aku merasa senang bisa berkenalan dengan orang yang umurnya melebihi diriku dan pastinya memiliki lebih banyak pengalaman.
Dalam sebuah forum diskusi aja ada salah satu kebiasaan buruk yang selalu bisa membuat aku nggak berkembang yaitu kalau sesi berpendapat dibuka aku malah pusing dengan pikiran sendiri. Mengutarakan pendapat aja pasti dipikir dulu bisa mengeluarkannya dengan baik atau nggak. Mulut itu rasanya ada yang nge lem, nggak bisa bicara luwes. Yang padahal di otak udah ada banyak banget pikiran, ide-ide dan pendapat. Yah, lagi-lagi terbentur nyali. Lagi-lagi menciut, kapan mau berkembangnya? Kapan mau berkembangnya kalau terus-terusan memanjakan kegugupan yang sebenarnya bisa dilawan? Hal itu membuat aku belajar kalau aku harus berani, bisa diandalkan dan menjadi orang yang penuh dengan semangat. Aku harus berkembang. Jangan mau terus-terusan ada di keadaan nyaman yang bisa membuat aku terjebak. Keluar dari zona nyaman memang butuh keberanian dan terkadang bisa dalam keadaan yang sangat nggak nyaman. Tapi lagi-lagi, kan kamu mau berkembang, apa salahnya mencoba hal yang belum pernah dilakukan?
Selain itu juga, aku bangga sama diriku sendiri, bisa sampai di titik ini. Udah bisa menerjang setiap masalah yang nggak henti-hentinya menerpa dan mestinya harus tetap bisa bertahan kalau masalah baru datang menghampiri lagi. Kalau nggak ada masalah, hidup lempeng-lempeng aja kan? Nggak seru deh kalau belum mencicipi pahit manisnya kehidupan. Yang perlu kita lakukan ya mencoba buat nerima dan berusaha melakukan yang kita bisa.
Yah malah ngomongin kehidupan, lanjut aja bahas yang tadi. Jadi introver itu mungkin banyak orang yang mandang negatif, kurang berani lah, nggak pede, nggak bisa ngomong, dan sejenisnya. Yakin deh, perkataan orang nggak semuanya benar dan seharusnya jangan terlalu mendengarkan omongan mereka. Yang ada dalam diri introver itu ya kita hanya butuh suasana tenang untuk bisa me time. Mencoba untuk berimajinasi dengan bijak. Nggak ada salahnya sama sekali. Waktu itu aku pernah ditegur oleh kakak kelas soal sikap aku yang ngeleos-leos aja kalau ketemu orang. Yang katanya aku bersikap sombong dan egois. Saat pertama kali denger hal itu, aku tentu kaget terdiam. Dia terus terang bilang soal sikap aku yang padahal dia belum seutuhnya mengenal diriku. Ya pikirku saat itu mungkin dia merasakan sikap aku yang begitu, makanya dia terus terang. Pengen banget rasanya membalas kalau aku itu ya memang gitu orangnya kalau sama orang yang belum lama dikenal ada rasa segan sekaligus nggak tahu harus melakukan apa, mau menyapa sok akrab dengannya kan nggak mungkin. Sebetulnya itu bukan tipeku. Tapi mau gimana lagi kan harus menghormati kakak kelas dan takutnya keluar kata-kata yang menyakitkan (mengerutkan dahi), jadi aku memutuskan untuk diam mengangguk-angguk apa yang dia katakan. Aku bukan perempuan yang hangat dan manis kayak kebanyakan perempuan. Caraku menyayangi teman pun bukan dibuktikan dengan kata-kata "aaa rindu banget" atau perempuan yang hangat memeluk temannya dan berkata manis. Walaupun kebanyakan orang yang menganggap aku sosok yang dingin dan cuek, tapi hal itu nggak lantas bisa nge cap kalau aku nggak punya perasaan. Namanya manusia pasti punya perasaan, cuma beda-beda cara menyampaikan perasaannya. Dan cara aku membuktikan perasaan bukan dengan pelukan atau perkataan manis. Tapi dengan minum teh bareng, juga bisa menjadi sebuah pencapaian kalau aku nyaman dengan orang tersebut. Jadi, siapa yang mau menikmati secangkir teh bareng?
Pada intinya jadi beda itu memang butuh usaha lebih untuk bisa diterima di masyarakat. Nggak semua orang bisa menerima tingkah laku seseorang, bahkan membenci tanpa alasan juga sering kali ditemukan. Tapi bukan tugas aku, kita semua buat menyenangkan semua orang. Cukup jalani aja hal yang disuka.
And, life must go on. Mau orang berkata apapun mereka hanya berkomentar aja, peduli juga nggak. Hidup kita akan terus berjalan dengan atau tanpa ocehan orang-orang, nggak berhenti tuh. Dan pada akhirnya kita juga akan ada di jalan masing-masing, sisanya cuma numpang lewat. Udah gitu aja.
Menjalani apa yang disuka, berusaha buat melakukan yang terbaik, mencoba menggapai mimpi, berdoa, at the end diserahkan pada Illahi Rabbi. Nggak ada perencana ulung melainkan hanya Dia Sang Pemilik alam semesta.
Salam klasika!

Comments
Post a Comment