Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan. Ada kok yang kuliahnya ke luar negeri melanjutkan studinya sampai S3 eh nyatanya seorang predator seks pada sesama jenisnya, bahkan puluhan orang dan sekarang kejahatannya menjadi kasus kejahatan seks tertinggi di UK. Ya udah tahu lah ya siapa. Dia udah menempuh banyak gelar, tapi ujung-ujungnya melakukan kejahatan, berarti ilmu yang didapat nggak menjadikannya sosok yang baik dan memiliki kualitas diri yang mumpuni. Tapi ada hal yang ternyata sangat deep to heart adalah dia juga merupakan korban pelecehan seksual. Awalnya menjadi korban, mungkin trauma yang dia miliki jadi memicu buat melakukan kejahatan yang sama pula, atau bisa dibilang balas dendam pada orang-orang yang nggak bersalah. Tuh kan, punya banyak ilmu juga nggak ngejamin jadi baik. Tapi bukan berarti kita nggak harus punya ilmu juga. Nggak gitu cara kerjanya guys. Alangkah lebih bagus lagi kalau kita memiliki keduanya, menguasai ilmu dan juga menjadi pribadi yang punya akhlak bagus. It's a greatest choise. Tapi bukan berarti orang yang nggak cukup punya ilmu kalau dia nggak baik juga. Banyak orang baik di seluruh belahan dunia ini dan semua itu dari banyak kalangan.
Dari kasus yang udah disebutkan itu hanya sebagai contoh buat kita semua, bahwa ada pelajaran yang bisa kita ambil dan diserap dalam-dalam. Tapi hal itu sangat jauh untuk dirasakan kenyataannya karena bukan dari kejadian real terjadi di sekeliling kita. Aku muak dengan orang-orang yang berkata kalau dirinya nggak pantas buat milikin sesuatu yang terlihat mewah yang padahal nggak mewah-mewah amat dan itu bisa dinikmati kok. Dan bahkan yang terlihat biasa-biasa aja eh harga yang harus dibayar melonjak jiwa. Contohnya, ada lah temanku yang kalau pergi jalan-jalan ke kota dia lebih baik makan di tempat yang terlihat biasa dan dia mengira harganya pasti murah juga, eh taunya mahal banget, Sissst. Intinya menurutku jangan melihat sesuatu dari luarnya aja, kan nggak tahu dalamnya gimana. Ada ko restoran atau tempat makan yang terlihat cukup bagus dan lumayan mewah tapi harganya lebih murah dibandingkan dengan tempat yang dikira murah-murah aja. Ada baiknya kita telusuri juga tempat makan seperti apa yang bakalan dicoba. Yang mewah tapi harganya pas dikantong banyak, yang biasa aja murah juga banyak. Tinggal pintar-pintar cari tahu aja, selesai.
Dari sikap temanku itu, aku jadi mikir dia pasti merasa nggak cukup pantas buat menikmati fasilitas yang baik. Seolah menutup kemungkinan buat dia merasakan kenikmatan yang sebenarnya dia wajib coba dan pantas buatnya. Sedikit sedih mendengarnya, hal ini bisa mengiris hati dan pikiranku "Oh ternyata ada batasan antara kalangan atas dan bawah."
Hal ini berlaku juga dalam pendidikan. Banyak temanku yang ekonominya kekurangan sering beranggapan bahwa dirinya nggak pantas buat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Alasannya jelas, nggak ada biaya, kuliah mahal. Sekilas aku mengerti dengan kondisinya, tapi aku sedih sekaligus miris juga dengan kenyataan bahwa dia menyerah dengan mimpinya. Aku sangat-sangat mengerti dengan keadaan tersebut, orang tuanya pun pasti memilih anaknya untuk nggak melanjutkan pendidikannya. Tapi dengan berkembangnya sistem pendidikan, adanya beasiswa kuliah full untuk orang yang kurang mampu, aku harap mereka bisa menyadari kalau mereka itu pantas menikmati bagaimana luar biasanya menuntut ilmu, mereka bisa berkuliah walau terbatas materi, bahkan bisa juga menjadi sosok yang luar biasa tiada henti. Tapi menurutku masih banyak siswa keterbatasan biaya diluaran sana yang kurang menyadari dengan adanya kesempatan ini, terlalu banyak hal yang mencegahnya atau bahkan yang melarangnya. Sedih, teriris, terkikis, begitulah rasanya ketika mendengar hal ini. Dan ini yang meresahkan pikiranku, aku harus curhat pada siapa? Dan akhirnya dengan menuliskannya seperti ini bisa sedikit mengobati.
Mungkin memang benar, dengan memiliki materi lebih bisa memudahkan sebagian besar urusan kita. Sepatutnya kita yang berkelebihan bisa lebih bersyukur dengan nikmat yang dimiliki. Lihat ke bawah, banyak orang yang mendambakan kehidupan ini. Orang yang berkesulitan lebih diasah kemampuan dan usahanya. Lebih dipersulit lagi kehidupannya dengan keadaan yang kurang dari kata cukup. Hal yang paling aku harapkan dari hal ini yaitu semua orang pantas menikmati semua hal di dunia ini tanpa ada keterbatasan dan kekurangan apapun. Aku harap semua orang bisa meraih mimpinya dengan lapang tanpa memikirkan persoalan pelik kehidupan. Pastinya kisah pelik hidup emang nggak bisa kita cegah adanya, pasti ada aja masalah dalam hidup ini bukan? Tapi yang perlu diketahui, kalau kita mampu buat menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Tetap kuat, tetap berusaha, kita sama-sama memperjuangkan.
Walaupun hal itu dirasakan oleh diriku juga, tapi aku sadar kita ini fakir ilmu, manusia yang mencari kebenaran dan sering mempermasalahkan ya karena ilmu kita sedikit dan perlu di- upgrade. Ilmu bisa didapatkan dengan cara apapun nggak di pendidikan formal aja. Tinggal menumbuhkan kesadaran kalau kita ini butuh dan perlu ilmu. Biar nggak jadi manusia yang bisa dibodohi orang sembarangan, biar bisa mengetahui setiap hal dengan ilmu yang didapatkan. Yang diperlukan tetap ingat pada yang Maha Mengetahui kalau kita ini masih jauh dari kata sempurna dan emang nggak sempurna, kalau kita udah mempelajari cukup ilmu jangan menjadi sosok yang besar kepala, membenarkan segala hal atau bahkan sampai kehilangan moral. Keep humble bahasa kerennya.
Sebenarnya yang membatasi kita melakukan apapun itu diri kita sendiri. Lebih didominasi oleh pola pikir. Tergantung pola pikir seperti apa yang kita punya dan itu merupakan tindakan kita saat ini. Kalau pola pikirnya bagus insyaallah apa yang dilakukan juga menghasilkan yang bagus juga, begitupun sebaliknya. Ada saatnya dimana aku pernah punya pola pikir yang buruk dan ternyata hasilnya pun buruk juga. Hal itu bisa menyadari kalau kita itu perlu mindset yang growth atau berkembang.
Jangan menutup diri pada segala sesuatu yang nantinya akan disesali karena nggak mencoba hal itu. Contohnya kalau akan melakukan ujian tapi kita berpikiran nggak bisa dan nanti hasilnya akan jelek, pikiran kita malah sibuk dengan nggak bisa menyelesaikan ujian itu dan bukannya belajar biar dapet hasil yang bagus. Nggak sedikit juga orang-orang yang membatasi pikirannya akan hal sesuatu yang dikiranya sulit. Akupun mengalaminya. Rasanya pemikiran sulit itu memenuhi isi kepala sampai-sampai bingung mau ngelakuin kegiatan apa. Sibuk sama hal yang nggak tentu dan nggak jelas, malah lupa melakukan intinya.
Balik ke awal, jadi baik juga bukan hanya buat orang-orang yang kelihatannya normal. Kita nggak menduga kalau ada orang yang kelihatannya bengis, kasar, keras, eh ternyata sikapnya baik pada sesama. Orang tatoan aja banyak yang memandangnya miring, entah itu terlihat kriminalis atau sangar. Hal yang baru banget aku sadari, orang tatotan atau bertindik mereka menunjukkan dirinya seperti itu, dan itulah diri mereka. Pernah aku mengobrol dengan seseorang dan kami memperbincangkan kerjaan dan ada satu topik dimana dia berkata:
"Kalau melamar kerja di perusahan ini nggak bisa kalau bertindik dan bertato."
"Lah kenapa?" Tanyaku. Dia bilang memang seperti itu aturannya. Lalu dia bercerita lagi.
"Akupun nggak bisa melamar kerjaan itu ya karena aku punya tindik."
Lalu aku malah bertanya ini dengan bodohnya.
"Kenapa nggak dilepas aja?"
"Ya karena ini diriku, nggak mau lepas aja." Ujarnya.
Sehabis obrolan itu, seketika aku menghela nafas dan mencoba mimikirkan perkataan yang dilontarkannya. "Benar juga ya ngapain juga aku menyuruhnya melepaskan tindiknya itu." Dalam benak ku berkata.
Ternyata dari obrolan itu aku sadar kalau orang memutuskan dirinya buat bertato dan bertindik ya itu pilihan dia, kita harus menghargainya bukan malah menghujatnya. Dan mereka pun baik orangnya dan siapapun memang berhak buat menjadi baik.
Ada juga tokoh waria yang baru-baru ini aku telusuri di internet. Beliau menjadi waria karena dia merasa kalau itulah dirinya dan dengan menjadi waria lah hidup dia menjadi berarti. Waktu SMP dia bahkan sempat memacari seorang cewek dan ternyata nggak ada perasaan apapun, hingga dia sadar jiwanya ada di sosok perempuan. Dengan pencariannya, beliau mempelajari hal yang disukainya dengan mengikuti banyak aktivitas kemanusiaan dan mendapatkan berbagai penghargaan, hingga dia dapat menjadi Puteri Waria Indonesia pada tahun 1995 dan sampai pada puncaknya beliau menjadi pemimpin gerakan HIV AIDS pertama di Indonesia dan hal ini yang membuat dia di blow up media dan bisa membuat papanya bangga.
Itu sepenggal kisahnya, aku sebagai muslim emang nggak membenarkan untuk menyerupai lawan jenis apalagi mengubah qodratnya. Tapi disini aku pengen menyampaikan kalau kita perlu menghargai setiap keputusan yang dibuat oleh siapapun itu. Banyak yang memandang miring, bahkan mengolok-olok waria. Sebagai muslim tentunya tidak diperbolehkan menyakiti perasaan manusia apalagi mengolok-olok sekalipun pada seorang waria. Satu hal yang mesti aku lakukan yaitu berdoa supaya kelak dia bisa kembali pada jalan-Nya dan menyadari kesalahannya.
Hal yang pengen aku diskusikan yaitu kebaikan seseorang nggak memandang fisik entah itu dia bertato, bertindik, waria, memiliki tampang sangar dan jutek nggak berarti kalau mereka itu jahat dan selalu melakukan kesalahan. Tapi mereka pun berhak untuk menjadi baik. Waria yang kusebutkan ini pun dia nggak melakukan tindakan negatif yang merugikan masyarakat, bahkan dia menjadi sosok yang cerdas, kompetitif dan peduli sesama. Dia berbeda, tapi dengan perbedaannya itu dia maju dan memiliki berbagai prestasi.
Menjadi baik nggak mandang apapun, status sosial, ekonomi, maupun fisik nggak mencengah buat menjadi sosok yang baik dan berguna bagi sesama.
Okay, dari tadi terus-terusan bilang semua orang berhak buat jadi baik, tujuannya apa sih? Ya karena nggak perlu buat kita melihat luarnya aja lalu bisa menyimpulkan gimana dalamnya. Seburuk-buruknya sesuatu atau secantik apapun cover seseorang ataupun dalam segala hal (tempat, fasilitas, tempat makan,dll) nggak berarti dalamnya pun sama. Boleh jadi diluarnya terlihat cantik ternyata dalamnya nggak sebagus yang terlihat, dan boleh jadi yang terlihat dari luarnya kurang bagus ternyata dalamnya seindah pemandangan gunung-gunung es di Switzerland. Eh tiba-tiba Switzerland hahahaha.
Okay, sekian dan terima kasih.
Salam klasika!

Comments
Post a Comment