Skip to main content

Menumbuhkan Esensi Diri

     

         Sesekali atau bahkan beberapa kali rasa ingin tahuku pada suatu hal sudah terlontarkan semenjak kecil, entah itu bertanya pada diri sendiri atau pada orang lain. Seketika terlintas pemikiran-pemikiran persoalan apa tujuan kita diciptakan dan hal ke-bermanfaat-an apa yang bisa dilakukan diri sendiri pada orang banyak. Aku bahkan nggak mengetahui kalau aku ini penting atau tidak. Orang akan bahagia dengan adanya aku atau nggak sama sekali. Ya hal-hal seperti itulah seringkali melonjak bertanya dalam jiwa.

         Mengingat waktu nggak terbatas tapi waktu kita terbatas menjadi sebuah acuan tersendiri dapat tumbuh dan bertahan hingga kini. Entah itu dengan melakukan hal positif sekecil apapun yang bisa membuat waktu lebih sedikit berharga. Ini mengingatkan diri kalau setelah adanya ponsel; gawai aku sadar waktuku sebagian besar dihabiskan dengan berselancar tanpa arah meng- scroll kesana-kemari entah mencari apa, ya sebagian besar waktuku habis seketika seperti terbakar kesangaran kobaran api. Waktu sehari terasa nggak cukup bagiku untuk mengetahui informasi yang pengen aku dapat. Rasanya aku melakukan hal yang sia-sia yang nggak ada tindakan kongkret-nya sama sekali. Walaupun aku bermain internet mencari tahu informasi atau berita, tetap saja kalau hal ini terus-menerus dilakukan ya nggak bakal terkendali dan bisa menjadi candu. Hal apapun kalau udah kecanduan bakal nggak baik akhirnya, bisa membahayakan. Sudah tahu waktu terbatas masih aja melakukan hal-hal yang bersifat sementara dan hanya hiburan semata, akalku memang kadang berpikir rasional tapi setelahnya bisa saja berubah seketika dan bisa melakukan hal itu lagi. Nggak konsisten.

Tapi setelah tahu dan sedikit sadar akan candu gawai ini, mula-mula aku terapkan di kehidupan nyata, mencoba melakukan kegiatan tanpa melibatkan hingar-bingar dunia maya. Awalnya memang membuat hati dan pikiran nggak tenang dan selalu ingin menggapai ponsel. Tapi kembali ku redamkan niat itu saat ini. Dengan memulai sebuah kebiasaan dan kelak secara nggak sadar proses ini akan menghasilkan suatu hal yang baik pula. Ternyata semakin maju dan canggih dunia, nggak serta-merta bisa mengendalikan diri kita. Sebaliknya, kita yang harus bisa mengatur dengan takar seperti apa kita membutuhkannya atau bahkan bisa berinovasi sendiri. Iya, solusinya dari diri sendiri.

Well, dari secarik obrolan gawai dan internet, aku bisa menemukan diri sendiri. Artinya, terdapat hal yang bermanfaat lainnya selain berselancar di internet. Sesekali aku ingin mencoba melihat dunia terbuka dengan berbagai kisah menarik dari kehidupan yang penuh dengan komplikasi ini. Hidup ini bukan mengenai diri sendiri. Lihat sisi lain, bukan hanya aku aku aku saja, tapi banyak juga makhluk sosial lainnya yang perlu dibantu dan dimengerti. Bukan makhluk sosial saja tapi semesta dan makhluk hidupnya.

Setelah banyak menonton video ini itu di youtube, melihat beragam informasi, menikmati alunan lagu dan mencicipi tayangan film yang menakjubkan, aku jadi sadar yang kusukai terikat dengan seni. Bukan dengan alasan memiliki bakat seni, tapi aku penikmat seni. Selama ini aku memakai dan berinternet ya untuk mencari karya dan menikmatinya. Sayangnya, untuk saat ini karya orang lain yang bisa ku nikmati. Kelak, mimpiku bisa menghasilkan karya, entah itu dengan media tulisan, tontonan, maupun suara. Aku mencoba mengamati, mengamati dan mengamati lagi, ternyata aku menikmati sebuah karya seni itu bukan untuk pelarian dari kehidupan nyata atau semacamnya. Tapi, aku punya unek-unek yang ingin juga disampaikan dalam sebuah karya. Dengan menonton film, mendengarkan musik, melihat lukisan/gambar, ataupun membaca buku ternyata ada sebagian pesan 'nilai kemanusiaan' yang sepaham dengan unek-unek ini yang aku rasakan. Aku dan filmnya bisa sama-sama berlarut dalam sebuah imajinasi. Aku dengan mendengarkan musik bisa merasakan pesan tersirat dengan alunan indah bahwa ada hal yang ingin disampaikan sang pencipta lagu. Aku dengan melihat lukisan bisa juga melihat sisi kehidupan yang dituangkan dalam sentuhan tangan ke dalam canvas yang diberi warna. Ya, begitu artinya. Aku terlalu punya banyak keresahan yang ingin disampaikan. Keresahanku bukan hanya tentang diri sendiri, tapi sebagian dalam semua aspek kehidupan. Semoga saja kelak bisa diperkenankan membuat sebuah karya seni. Meskipun nggak punya bakat seni, keterikatan pada seni bukannya bisa menumbuhkan rasa ingin tahu dan boleh jadi menerapkan ilmu yang didapat? Seni ada dimana-mana. Hidup nggak terlepas dari seni.

Jadi, selama ini sedari kecil mempelajari ilmu eksak apakah sia-sia? Nggak dong pastinya. Ingat! Semua bidang ilmu saling keterikatan, berhubungan satu dengan lainnya dan nggak ada yang percuma, pasti ada secarik makna di dalamnya. Ya, memang ilmu eksak menjadikan diriku seperti saat ini. Ilmu ini nggak cuma teori semata, tapi aku ingat usahaku dulu sekolah bagaimana susahnya memahami pelajaran-pelajaran eksak yang ingin sekali aku taklukkan. Sebegitu susah dan berusahanya aku dulu supaya bisa paham ilmu itu, aku nggak punya kecerdasan tingkat tinggi atau apapun itu, tapi aku hanya mencoba menguasainya dengan baik. Banyak orang mengira aku pintar ilmu eksak, padahal mereka nggak tahu aku hanya ingin bisa menguasainya saja. Apakah dengan mempelajarinya ada rasa senang? Awalnya iya ada, tapi ternyata lama-kelamaan itu membuatku tertekan. Aku nggak mampu. Ternyata ini bukan bidangku.

Lalu studi apa yang bakal aku ambil nantinya? Entahlah, yang pasti ilmu apapun itu akan sama bermanfaatnya dan nggak ada titik salahnya. Walaupun aku menyukai seni, mendalami ilmu eksak, nggak berarti aku akan mengambil keduanya. Yang pasti aku ingin mempelajari hal yang bermanfaat. Begitu waktunya tiba, semua pertanyaan, semua kegundahan di dada akan terjawab secara perlahan. Dan kita pun akan mengerti hal apa yang ingin disampaikan Sang Pencipta pada hambanya dengan cara yang indah.

Jawaban dari pertanyaan untuk apa kita diciptakan bisa jadi aku sudah menemukan, tetapi bisa jadi kurang tepat juga untuk keseluruhan. Mungkin aku diciptakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain walaupun saat ini aku hanya terdiam di pojok kursi ruang tengah sembari memikirkan kata-kata apa yang akan aku tulis di blog ini. Ya, tetapi memang sebenarnya kita diciptakan untuk saling memberi manfaat, entah itu dengan kegiatan sosial membantu korban bencana, lewat karya, membantu orang lain untuk menuntut ilmu, dan banyak hal lainnya. Mengapa demikian? Dengan menjadi orang bermanfaat, hidup terasa lebih tenang, aman, banyak senyum bertebaran. Walaupun lagi-lagi nggak mungkin bisa menyelamatkan seisi dunia, mana mungkin. Dari hal kecil aja aku yakin bisa berdampak baik walaupun kita nggak tahu hal apa yang terbantu dengan tindakan kecil ini.
Kedua, apakah diriku ini penting atau nggak bukanlah suatu hal yang perlu dipikirkan. Terlalu banyak pikiran-pikiran negatif dalam kepalaku seolah membisikkan "kamu nggak penting" ternyata pikiran ini perlu diabaikan. Nggak akan baik bila sering dipikirkan, susah jadi nggak cinta diri sendiri. Jadi mulai sekarang aku menanamkan kalau "kamu penting buat diri kamu sendiri sudah lebih dari cukup."

Salam klasika!







Comments

Popular posts from this blog

Muak dengan Kesenjangan Sosial

         Nilai kebaikan dan kualitas bagus sebagai manusia bukan dinilai dari seberapa banyak harta atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Orang yang cenderung nggak memiliki materi yang cukup banyak nggak dipungkiri kalau sikap dan tingkah lakunya buruk. Nggak gitu arti sebenarnya.         Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan...

To be Grow

         Seiring berjalannya waktu, konsep, pemahaman, dan perlakuan pasti dituntut untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, dengan umur yang bertambah diharuskan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mengapa begitu? Ada yang bilang itu stereotipe yang berkembang di masyarakat, ada juga ya memang seharusnya begitu proses bertumbuhnya manusia. Tapi, sebenernya dari dalam diri manusianya itu sendiri nggak demikian, jiwa cenderung nggak sadar dengan bertambahnya usia atau tumbuhnya fisik. Tapi karena adanya tuntutan berkembang, manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjadi sedewasa yang dia bisa.          Nggak dipungkiri juga, ada seseorang yang dewasa melebihi usianya. Dia dituntut untuk dewasa karena adanya suatu hal yang dia alami entah itu masalah dalam keluarga, lingkungan, maupun bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan adanya perbedaan masalah dan keadaan pun bisa menjadikan seseorang menjadi dewasa. Menjadi rapuh baginya nggak bisa mengatas...