Skip to main content

To be Grow


         Seiring berjalannya waktu, konsep, pemahaman, dan perlakuan pasti dituntut untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, dengan umur yang bertambah diharuskan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mengapa begitu? Ada yang bilang itu stereotipe yang berkembang di masyarakat, ada juga ya memang seharusnya begitu proses bertumbuhnya manusia. Tapi, sebenernya dari dalam diri manusianya itu sendiri nggak demikian, jiwa cenderung nggak sadar dengan bertambahnya usia atau tumbuhnya fisik. Tapi karena adanya tuntutan berkembang, manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjadi sedewasa yang dia bisa.

         Nggak dipungkiri juga, ada seseorang yang dewasa melebihi usianya. Dia dituntut untuk dewasa karena adanya suatu hal yang dia alami entah itu masalah dalam keluarga, lingkungan, maupun bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan adanya perbedaan masalah dan keadaan pun bisa menjadikan seseorang menjadi dewasa. Menjadi rapuh baginya nggak bisa mengatasi masalah yang dihadapi, hingga dewasa bisa muncul seketika demi menjalani keseharian seperti biasanya.
Bukannya tumbuhan yang baru ditanam pun masih rentan dan rapuh hingga bisa menjadi kuat nan kokoh untuk bisa berdiri sendiri?

         Aku sendiri pun meyakini kalau dewasa itu bukan terlihat hanya dengan fisik, tapi juga jiwa, mental dan pikiran. Dewasa juga nggak berarti jika udah nikah atau punya anak, maka itu bisa dibilang dewasa, kenyataannya nggak begitu. Banyak Ibu muda yang mempunyai anak dengan dadakan alias nggak mempersiapkan kelak untuk mendidiknya bagaimana, biaya pendidikan, kasih sayang, dll. Sehingga dalam mengurusnya pun kurang optimal. Jadi, mungkin dewasa itu berarti dengan persiapan mental yang matang, selalu memikirkan adanya keuntungan dan konsekuensi dalam suatu hal, bisa juga dengan mendewasakan pikiran dan tindakan.

         Ku kira usia 20 itu dewasa. Bahkan waktu Sd pun aku kira umur 10 tahun itu bener-bener matang dan dewasa. Tapi ternyata kiraan dulu yang sangat yakin itu salah dan kurang tepat. Usia 18 tahun yang udah memiliki ktp dan diakui negara pun ternyata nggak dewasa seperti yang orang pikir. Umur 18 itu masih dalam peralihan yang biasanya ngikutin jalan yang orang tua kasih dengan sekarang yang dikasih gemblang ini loh dunia nyata. Masih syok dengan kenyataan:
"Lo harus bisa hidup sendiri dan tentuin tujuan hidup apa yang bakalan lo pilih."
Sadis ya kan, pedih memang. Tapi, mungkin lebih banyak lagi orang diluar sana yang mengalami hal ini sebelum usia 18 tahun atau mungkin ada yang dari kecil harus dituntut buat dewasa. Ya, seperti yang kita tahu jalan hidup orang beda-beda dan apa yang dilaluinya pun pasti beda-beda. Pendewasaan seseorang itu dipengaruhi juga dari lika-liku hidupnya.

         Semakin lama semakin kesini pun konsep dan pemikiran diri sendiri akhirnya sering jatuh dan tersungkur. Entah apa yang salah dan entah apa yang mempengaruhinya. Diri yang mencoba untuk dewasa tapi sebenarnya masih punya ke- childlish-an tersendiri ini semakin terbuka lebar untuk disadari. Pasti ada yang salah dalam pemikiran dan tindakan yang selama ini kulakukan atau prinsipkan. Hingga aku sadar, konsep dan pemikiran itu bukan untuk dibuat sendiri, tapi harusnya pemahaman Islam itu melekat dan dijadikan visi hidup untuk kedepannya. Aku senang dengan kenyataan bahwa Allah masih sayang padaku, hingga Dia selalu kembalikan aku dari kegelisahan dan berikan aku peringatan yang mungkin dulu aku pikir itu hanya masalah biasa dan pasti akan dilewati juga akhirnya. Tapi, lagi-lagi aku sadar masalah yang dateng itu ya tanda kalau Allah memperingatkan supaya aku yang penuh kesalahan ini bisa kembali pada jalanNya, agamaNya dan selalu melibatkan Allah dalam setiap hal. Allah tuh rindu.
Indah kan pesanNya.


         Dari situlah, mulai dibukakan satu persatu semangat muncul dalam diri. Mulai nggak mudah cemas, sedih, gelisah, atau bahkan marah. Perlahan mulai menerima semua itu kehendak Allah, nggak ada satu pun hal bisa terjadi tanpa izin-Nya. Dewasa bisa diukur dengan seberapa tanggung jawabnya engkau pada hal yang memang udah menjadi tugas. Bahasanya ya amanah atas apa yang jadi kewajiban kita. Simpel sih, tapi namanya manusia mudah terhasut dan tersesat. Tapi balik lagi, emang mau jadi hamba yang nggak amanah?

        Indikasi dewasa juga bisa dilihat dari seberapa mampukah kita dalam menyelesaikan suatu masalah. Jangan malah lari seolah masalah itu bukan milikmu. Diikuti juga dengan sikap jujur. Mampu jujur pada diri sendiri, orang lain dan pada Rabb kita.

        Dan, setelah menelaah gimana sih kok bisa banyak terjadi kesalah pahaman, konflik disana-sini, masalah bermunculan, dan semacamnya, ya ternyata karena masing-masing individu itu kurang mengerti akan pentingnya bertanggung jawab dalam peran masing-masing. Coba kalau seorang pencuri inget kalau rezeki bisa dijemput dengan pekerjaan sederhana, nggak akan tuh pencurian bertebaran dimana-mana.

        Ya pada intinya kita harus inget akan peran kita, entah itu sebagai anak, orang tua, sesuai profesi, maupun menjadi seorang pemimpin. Dan itulah dewasa, bisa mengambil perannya masing-masing dengan usaha yang terbaik.

Salam klasika!

Comments

Popular posts from this blog

Muak dengan Kesenjangan Sosial

         Nilai kebaikan dan kualitas bagus sebagai manusia bukan dinilai dari seberapa banyak harta atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Orang yang cenderung nggak memiliki materi yang cukup banyak nggak dipungkiri kalau sikap dan tingkah lakunya buruk. Nggak gitu arti sebenarnya.         Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan...

Menumbuhkan Esensi Diri

               Sesekali atau bahkan beberapa kali rasa ingin tahuku pada suatu hal sudah terlontarkan semenjak kecil, entah itu bertanya pada diri sendiri atau pada orang lain. Seketika terlintas pemikiran-pemikiran persoalan apa tujuan kita diciptakan dan hal ke-bermanfaat-an apa yang bisa dilakukan diri sendiri pada orang banyak. Aku bahkan nggak mengetahui kalau aku ini penting atau tidak. Orang akan bahagia dengan adanya aku atau nggak sama sekali. Ya hal-hal seperti itulah seringkali melonjak bertanya dalam jiwa.          Mengingat waktu nggak terbatas tapi waktu kita terbatas menjadi sebuah acuan tersendiri dapat tumbuh dan bertahan hingga kini. Entah itu dengan melakukan hal positif sekecil apapun yang bisa membuat waktu lebih sedikit berharga. Ini mengingatkan diri kalau setelah adanya ponsel; gawai  aku sadar waktuku sebagian besar dihabiskan dengan berselancar tanpa arah meng- scroll kesana-kemari ent...