Skip to main content

Matematika Punya Cerita

     

         Kalau ditanya pelajaran satu ini, pasti kebanyakan orang enggan membicarakannya apalagi mengerjakan. Apa sih sebenernya yang bisa bikin orang-orang nggak suka sama Matematika? Selain identik sama angka, Matematika juga bisa dibilang rumit. Ya rumit untuk dimengerti. "Kenapa sih kita harus belajar pelajaran ini? Nggak ada manfaatnya juga buat di kehidupan nyata." Begitu kira-kira respon kebanyakan orang. Tapi, menurutku mereka nggak sadar aja Matematika itu ada real di kehidupan nyata. Perdagangan, ekonomi, ngitung jarak, bahkan buat beli permen pun kita harus bisa menghitung dengan benar. Kita nggak bisa lepas tangan gitu aja dari satu hal ini karena gimana pun kan kita perlu banget yang namanya 'uang'. Tanpa uang? Matilah kita semua hahaha. Nggak cuma soal uang, Matematika juga banyak berperan buat hidup kita. Kalau ada orang yang bilang nggak butuh Matematika, dia salah besar. Mana mungkin bisa, mustahil menurutku. Secara nggak sadar kita mengaplikasikan ilmu ini mau nggak mau. Dunia ini harus seimbang kawan, ilmu logika dan sisi seni yang ada perlu kita miliki biar lebih berwarna, asik nggak nih. Matematika ini sering banget dipandang sebelah mata, kasihan juga ya hihihi. Cuma segelintir orang yang suka dan mendalaminya. Dan yang menyukai ilmu ini juga punya sisi yang unik, nggak dimiliki kebanyakan orang. Biasanya ciri-ciri orang yang suka ilmu ini itu punya rasa ingin tahu yang besar, suka memecahkan masalah dan punya sisi logika yang kuat. Nggak jarang juga yang suka ngatain orang penyuka Matematika ini sosok yang aneh dan terlalu imajinatif. Yah lagi-lagi kata orang ada dimana-mana. Tapi kita nggak perlu dengerin argumen negatif orang-orang. Kita cuma perlu ngelakuin hal yang kita suka selama hal ini baik adanya. Ilmunya unik begitupun orang penyukanya unik. Gapapa unik itu indah.

         Jadi, setelah ngomongin panjang kali lebar soal Matematika di atas, aku punya banyak banget cerita sama Matematika. Ini intinya loh guys, dari tadi ngomong ngaler ngidul tapi belum tahu tujuan tulisan ini wkwk maafkan diriku ini yang lemah tidak berdaya ya sobatnya Klasika. Nggak tahu kapan mulainya tapi yang aku sadari sejak SD aku tahu Matematika. Kalau sejak kecil cuma tahu penyebutan angkanya aja btw kan masih bocah, tahu apa sih hehe. Nah dimulai saat aku SD, awal kelas 1 (satu) cuma nulis-nulis angka kan sampe sebuku biar akrab katanya sama angka. Aku senang-senang aja saat pelajaran ini karena guru yang mengajariku pun membawakannya dengan menyenangkan. Lama-kelamaan bukan lagi nulis angka di buku aja, tapi kali ini kelas udah mulai buat hitung-menghitung. Mulai dari pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Aku lupa waktu itu, yang jelas aku bisa ngikutin pelajaran ini dengan baik. Di kelas 3 (tiga), menghitung udah nggak sesimpel dulu lagi. Pokonya itungannya udah lebih rumit dan bikin pusing. Nilai ulanganku pun pernah merah. Saking merahnya, aku sempat bohong ke orang tua, guru, dan teman-teman soal nilai ulanganku ini. Malu ternyata punya nilai jelek, nggak ada bagus-bagusnya pikirku.

         Sampai suatu saat dimana aku udah pindah sekolah dan Matematika masih setia menemani jejak hidupku. Semakin naik kelas makin ribet dan susah buat ngerjain soal-soal hitungan. Walaupun susah dipikiran, aku selalu enjoy aja mengerjakan Matematika. Bahkan dulu kalau syarat buat pulang itu harus hafal perkalian dari satuan sampai belasan, aku jawab paling cepat bisa pulang cepat juga. Paling semangat juga buat ilmu satu ini, nilaiku pun lama-kelamaan naik. Nggak kerasa yang dulunya sempat dapat nilai merah, suka ngepusingin hitungan, tapi sekarang bisa lebih menghargai dan enjoy. Teman-temanku waktu itu mungkin mikir ada apa sama diri aku yang bisa semangat banget kalau soal itungan, banyak juga yang bilang. Aku sendiri juga aneh bisa semangat banget dulu kalau diingat. Sampai-sampai pernah suatu ketika di kelas waktu pelajaran hitungan, aku nulis di bagian buku belakang. Tulisannya "I Love Matematika". Teman sebangku langsung menatapku aneh dan berkata seolah bertanya kenapa aku bisa suka banget sama Matematika yang padahal nggak dia suka. Masa SDku dipenuhi warna-warni Matematika dan nggak peduli sama hal lainnya. Pacaran pun nggak kenal tuh hahahah.

         Semakin naik lagi, beranjak dewasa, orang penyuka Matematika bertambah, nggak cuma aku aja. Tapi lebih banyak dan lebih jago dari aku. Pernah juga kena hukuman dari salah satu guru, ini emang kesalahan aku sendiri tapi bisa jadi pelajaran banget buat kedepannya. Waktu itu pelajaran Matematika berlangsung dan suasana hening, guru menjelaskan di depan. Di hari yang sama juga ada tugas buat pelajaran lainnya dan gawat, aku belum mengerjakannya. Aku mengerjakan tugas itu disaat pelajaran Matematika berlangsung. Mati lah aku, ketahuan. Guru itu mendekati dan memarahiku juga menjelaskan ke teman sekelas bahwa ngerjain tugas pelajaran lain di waktu yang salah itu nggak boleh dan sama aja nggak ngehargain guru yang sedang menjelaskan pelajaran lain. Mati deh, kena cakra besar di absen. Nyaliku pun menciut seketika dan mencoba memahami kejadian saat itu. Padahal aku suka sama Matematika, tapi karena kejadian ini hubunganku dengan Matematika dan gurunya teramat buruk. Di pertemuan selanjutnya dengan guru itu aku mencoba buat nggak bertingkah macam-macam. Setelah kejadian itu, aku jadi lebih bisa mengatur waktu dan tingkah laku buat nggak ngelakuin hal itu lagi sampai saat ini dan sampai nanti. Aku sadar Pak, Bu, aku salah.

        Dengan banyaknya saingan yang lebih jago, kucoba buat belajar lebih giat dan teliti lagi. Lebih bisa memahami dan sadar Matematika itu ternyata butuh perasaan dan penghargaan. Nggak hanya sekedar bisa itungan, orang lain juga bisa. Tapi ternyata lebih sekedar dari itu, lebih dalam. Matematika perlu dipahami dan dimengerti. Dan sekarang aku mulai jauh dari itu. Sadar kemampuan diri sendiri ada dimana dan nggak bisa selalu memuaskan keinginan yang tinggi. Inget dari suatu buku "Jangan terlalu memberi makan ego, kita butuh sebuah kata lebih dari cukup."

         Gimana hubunganku sama Matematika saat ini? Masih sama, masih suka, tapi pernah terluka. Hal itu yang bikin aku nggak se- excited dulu.
Salam klasika!

Comments

Popular posts from this blog

Muak dengan Kesenjangan Sosial

         Nilai kebaikan dan kualitas bagus sebagai manusia bukan dinilai dari seberapa banyak harta atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Orang yang cenderung nggak memiliki materi yang cukup banyak nggak dipungkiri kalau sikap dan tingkah lakunya buruk. Nggak gitu arti sebenarnya.         Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan...

Menumbuhkan Esensi Diri

               Sesekali atau bahkan beberapa kali rasa ingin tahuku pada suatu hal sudah terlontarkan semenjak kecil, entah itu bertanya pada diri sendiri atau pada orang lain. Seketika terlintas pemikiran-pemikiran persoalan apa tujuan kita diciptakan dan hal ke-bermanfaat-an apa yang bisa dilakukan diri sendiri pada orang banyak. Aku bahkan nggak mengetahui kalau aku ini penting atau tidak. Orang akan bahagia dengan adanya aku atau nggak sama sekali. Ya hal-hal seperti itulah seringkali melonjak bertanya dalam jiwa.          Mengingat waktu nggak terbatas tapi waktu kita terbatas menjadi sebuah acuan tersendiri dapat tumbuh dan bertahan hingga kini. Entah itu dengan melakukan hal positif sekecil apapun yang bisa membuat waktu lebih sedikit berharga. Ini mengingatkan diri kalau setelah adanya ponsel; gawai  aku sadar waktuku sebagian besar dihabiskan dengan berselancar tanpa arah meng- scroll kesana-kemari ent...

To be Grow

         Seiring berjalannya waktu, konsep, pemahaman, dan perlakuan pasti dituntut untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, dengan umur yang bertambah diharuskan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mengapa begitu? Ada yang bilang itu stereotipe yang berkembang di masyarakat, ada juga ya memang seharusnya begitu proses bertumbuhnya manusia. Tapi, sebenernya dari dalam diri manusianya itu sendiri nggak demikian, jiwa cenderung nggak sadar dengan bertambahnya usia atau tumbuhnya fisik. Tapi karena adanya tuntutan berkembang, manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjadi sedewasa yang dia bisa.          Nggak dipungkiri juga, ada seseorang yang dewasa melebihi usianya. Dia dituntut untuk dewasa karena adanya suatu hal yang dia alami entah itu masalah dalam keluarga, lingkungan, maupun bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan adanya perbedaan masalah dan keadaan pun bisa menjadikan seseorang menjadi dewasa. Menjadi rapuh baginya nggak bisa mengatas...