Skip to main content

Dari Sekian Kata, Ini Penyembuh Menurutku!

     

        Pernah nggak sih dalam kepala banyak yang pengen ditanyakan? Sampai ke hal-hal yang sepele aja ditanyain, kan aneh. Sering banget aku punya banyak pertanyaan sendiri, walaupun aku tahu nggak akan dapet jawaban 100% ter-logika-kan. Tapi satu hal yang aku tahu saat ini yaitu nggak semua hal ada logikanya, bisa jadi hal itu hanya bisa dipercayai tanpa harus tahu dari mana asalnya. Ya, memang benar. Jika kita terus-menerus menanyakan banyak hal nggak akan ada ujungnya dan yang ada bikin pusing diri sendiri.

        Dalam hidup banyak orang yang merumitkan hidupnya sendiri yang padahal bisa dipikir sesederhana mungkin. Ada juga yang hidupnya itu dibawa enjoy aja, ada masalah pun dia enjoy. Sebenernya baiknya hidup itu harus dipikirin atau bawa enjoy aja sih? Kaitan ini emang gimana masing-masing. Tapi sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Mungkin ada saatnya dimana hidup perlu dipikirkan dan ada saatnya juga harus dibawa enjoy. Ya nggak sih?

         Setelah menempuh lorong kehidupan selama 18 tahun, aku banyak melihat orang-orang menyikapi hidupnya, terutama diri sendiri juga. Dan di tahun terakhir ini, ada banyak pelajaran yang bisa aku ambil. Misalnya dari segi sifat yang ada dalam diri sendiri, pertemanan, arti dari kesuksesan, dan lain-lainnya pokonya banyak banget. Nggak bisa dijelaskan satu persatu, tapi intinya di tahun ini banyak yang bikin pandangan aku berubah, banyak persoalan yang membanting diri sendiri buat selalu kuat. Tapi sekuat-kuatnya manusia, dia bukan tokoh yang ada di Avangers juga ko. Ada kalanya kita harus menerima sebuah kesedihan, kehancuran, dan mungkin kegagalan? Ya, jika kalian mengalami salah satu atau salah tiga dari hal diatas nggak apa-apa wajar itu termasuk dalam inti kehidupan. Kalau pengen nangis? Nangislah. Pengen teriak? Teriaklah. Nggak ada yang ngelarang sama sekali. Asalkan hal itu hanya buat meluapkan apa yang dirasain diri kita sendiri dan jangan berkelarutan. Hal ini yang baru banget aku sadari di tahun ini. Dulunya, ku kira harus terus kuat, nggak boleh terlihat sedih deh pokonya, you are a hero. Ada masalah pun dulu mesti dipendam sedalam-dalamnya. Tapi, lagi-lagi di tahun ini aku menemukan sebuah perubahan. Pikiran, perspektifku berubah total. Nggak masalah kalau pengen mengekspresikan yang dirasakan. Nggak mengapa kamu sedih dan merasa gagal. Toh itu yang membuat kamu jadi sosok yang lebih kuat lagi dan yang akan bikin kamu tumbuh menjadi sedemikian rupa saat ini. Sosok yang bisa terlihat tegar dan energik. Membagikan aura positif ke orang lain menjadikan dirimu manusia pembawa kebahagiaan sejati.

        Di tahun ini juga aku menemukan banyak orang baru dan karakter baru. Senang sekali rasanya bisa berbincang dengan orang yang punya pemikiran berbeda. Banyak sharing juga sama teman-teman kakakku yang berkuliah di ITB. Dan mereka banyak memberi masukan dan aku merasa amat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti itu. Nggak kusangka ini terjadi di tahun yang menurutku tak tertolongkan ini.

        Tapi seburuk-buruknya suatu hal, pasti ada yang bisa kamu ambil walaupun hanya secubitan jari. Aku pun melihat banyak kegiatan ke-Islam-an. Dan hal itu juga yang membuka pikiranku untuk kedepannya. Senang sekali rasanya menjadi relawan pengajar anak bangsa, menjadi sosok yang nggak selalu memikirkan diri sendiri tapi juga berusaha peduli pada orang banyak, begitu pikirku.

        Yang merasa tak tertolongkan ternyata bisa menjadi yang tersembuhkan. Terimakasih 2019, kau obat penyembuhku.
Salam klasika!

Comments

Popular posts from this blog

Muak dengan Kesenjangan Sosial

         Nilai kebaikan dan kualitas bagus sebagai manusia bukan dinilai dari seberapa banyak harta atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Orang yang cenderung nggak memiliki materi yang cukup banyak nggak dipungkiri kalau sikap dan tingkah lakunya buruk. Nggak gitu arti sebenarnya.         Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan...

Menumbuhkan Esensi Diri

               Sesekali atau bahkan beberapa kali rasa ingin tahuku pada suatu hal sudah terlontarkan semenjak kecil, entah itu bertanya pada diri sendiri atau pada orang lain. Seketika terlintas pemikiran-pemikiran persoalan apa tujuan kita diciptakan dan hal ke-bermanfaat-an apa yang bisa dilakukan diri sendiri pada orang banyak. Aku bahkan nggak mengetahui kalau aku ini penting atau tidak. Orang akan bahagia dengan adanya aku atau nggak sama sekali. Ya hal-hal seperti itulah seringkali melonjak bertanya dalam jiwa.          Mengingat waktu nggak terbatas tapi waktu kita terbatas menjadi sebuah acuan tersendiri dapat tumbuh dan bertahan hingga kini. Entah itu dengan melakukan hal positif sekecil apapun yang bisa membuat waktu lebih sedikit berharga. Ini mengingatkan diri kalau setelah adanya ponsel; gawai  aku sadar waktuku sebagian besar dihabiskan dengan berselancar tanpa arah meng- scroll kesana-kemari ent...

To be Grow

         Seiring berjalannya waktu, konsep, pemahaman, dan perlakuan pasti dituntut untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, dengan umur yang bertambah diharuskan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mengapa begitu? Ada yang bilang itu stereotipe yang berkembang di masyarakat, ada juga ya memang seharusnya begitu proses bertumbuhnya manusia. Tapi, sebenernya dari dalam diri manusianya itu sendiri nggak demikian, jiwa cenderung nggak sadar dengan bertambahnya usia atau tumbuhnya fisik. Tapi karena adanya tuntutan berkembang, manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjadi sedewasa yang dia bisa.          Nggak dipungkiri juga, ada seseorang yang dewasa melebihi usianya. Dia dituntut untuk dewasa karena adanya suatu hal yang dia alami entah itu masalah dalam keluarga, lingkungan, maupun bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan adanya perbedaan masalah dan keadaan pun bisa menjadikan seseorang menjadi dewasa. Menjadi rapuh baginya nggak bisa mengatas...