Skip to main content

Metamorfosa Ria

       


         Nggak banyak yang aku ingat tentang masa kecil yang orang-orang memorikan. Beda sama yang lainnya, masa kecilku yang bisa dibilang cukup menyenangkan tapi penuh sama aturan dan perintah. Menetap di kota orang tapi lahir di kota ini ngebuat keluargaku sedikit berbeda dari kebanyakan orang. Rumah berpindah-pindah, kerabat sedikit, dan ini yang ngebuat keluarga kami sedikit individual. Tinggal pun di kawasan yang sepi tetangga alias sepi penghuni nggak rame kayak di perkampungan. Dan ini juga yang bikin aku kurang mengenal gimana rasanya hidup di pedesaan padahal tinggal di pedesaan juga, eh gimana sih. Suka denger cerita temen-temen yang di tempat tinggalnya banyak sawah, anak-anak main di empang atau kebun. Mikir juga, kok dulu aku nggak gitu ya, padahal sama-sama desa dan kampung. Dan yang aku tahu pasti kalau orang yang tinggalnya di daerah penuh kereseruan asik sama anak-anak pasti dipenuhi kenangan indah juga memorable.

          Oh ya, jadi masa kecilku ini banyak ngikutin kakak perempuanku. Sampai pengen ketawa aku kalau ingat hal ini. Dari umur 5 tahun, aku sering ikutin kakakku ini dan emang karena dulu nggak ada yang ngurusku jadinya ngintil kemana-mana deh hahahah. Sering ikut main sama temen-temen kakakku, berpetualang ria tapi bareng yang usianya diatasku. Kakakku bisa dibilang jiwanya itu udah petualang banget dari dulu sampai sekarang. Dulu, sering banget ke kebun orang, terus metik buah. Eh tapi izin dulu ini wkwk. Dan aku pun seneng-seneng aja dibawa kakakku, diajak berpetualang, temen-temennya pun pada baik dan menyenangkan. Yang aku inget banget itu waktu rumah masih lumayan deket sama kuburan. Jadi waktu itu aku, kakakku, bareng segerombolan temen-temennnya main seru ke kuburan. Bukannya berdoa, tapi kami malah lari-larian, ngumpulin buah dan sayuran. Serius ini asik banget! Nah ini yang paling berkesan sekaligus menengangkan. Abis lari-larian di kuburan, kami berhenti dan menaiki mobil buntung belakangnya. Seru abis, digoyang-goyang mobilnya sambil teriak-teriak seneng. Saking senengnya, nggak inget sama sekali mobil itu milik siapa. Eh tahu-tahu ada yang marah-marah dateng dan negur kami. Seorang bapak-bapak brewokan dan berkumis, terlihat sangar menakutkan, megang bedog dalam bahasa sunda yang artinya pisau besar. Dia dateng dan memarahi kami karena udah naikin mobilnya, digoyang-goyang pula. Kami pun berlarian secepatnya lewat kuburan dan ini momen menegangkan serius. Tapi untungnya kami lolos dari kejaran maut sang bapak berbedog besar bertampang sangar. Alhamdulillah, bisa selamat dari kejarannya.

           Lanjut, pertemananku yang satu ini dari daerah yang sepi. Nah rumahku waktu itu dekat pusat desa tapi kawasannya sedikit sepi. Tapi aku punya perkumpulan anak-anak yang selalu kumpul di salah satu rumah temenku dan dia punya ayah yang soulmate banget sama anak-anak. Di rumah ini tuh fasilitasnya lengkap, koleksi kaset tertata rapi di rumahnya dan selalu kami tonton rame-rame. Orang tuanya friendly jadi kami pun senang buat main kesana lagi dan lagi. Karaoke keras parah juga sering kami lakukan bareng-bareng, sambil bikin masakan buat dimakan semuanya. Seru banget, ini nggak bisa dilupain buatku. Dan aku suka film pun dari pertemanan ini, nonton horror rame-rame uh seru abis pada teriak keras haha. Oh ya yang belum aku kasih tau kalau kumpulan ini tuh beda-beda umurnya ada yang masih balita, TK, SD, SMP. Kakakku pun temenku juga di perkumpulan ini dan dia dulu gokil abis orangnya bawel, cerewet, plus bikin orang-orang pengen ketawa. Sepanjang masa aku waktu SD dihabisin sama orang-orang yang super menyenangkan ini. Sampai pada akhirnya yang udah dewasa SMP ke atas udah mulai ninggalin pertemanan ini dan fokus sama mimpi masing-masing. Aku pun gitu. Suasana daerah rumah sejak itu menjelma jadi rumah kosong tanpa penghuni. Aku dan kakakku sejak itu juga cuma pulang pergi sekolah dan belajar di rumah. Sepi terasa saat kita udah dewasa bener adanya. Masa-masa tertawa tanpa pikiran serius itu pun perlahan sirna dengan sendirinya. Indah rasanya bila diingat lagi.

            Nah dari awal aku bilang masa kecilku penuh dengan aturan tapi cerita di atas nggak ada aturan-aturannya sama sekali, kenapa ya? Aku belum cerita yang satu ini. Kenapa dibilang penuh aturan dan perintah itu karena dulu hidupku nggak punya tujuan dan cuma main-main aja. Jadi orang tuaku selalu menetapkan banyak aturan dalam hidupku dan mereka juga yang perlahan bikin aku kesepian. Sejak kecil, aku udah biasa sendirian. Kemana-mana bawa kunci. Dari SD sekolah pun nggak pernah dianter Mama. Karena orangtuaku sibuk dan anak-anaknya pun diasuh oleh pengasuh tapi rasanya kami udah jadi keluarga, deket banget. Nah yang aku bilang bawa kunci rumah kemana-mana itu, jadi di rumah nggak ada siapapun, kakak-kakakku sekolah begitupun aku. Kita sama-sama bawa kunci, biar nanti kalau pulang nggak terkunci di luar. Tapi sesekali aku pernah terkunci di luar dan pernah nangis karena belum bisa ditinggal di luar rumah sendirian. Aku nggak mau kekunci di luar rumah keulang lagi, jadi aku harus bawa selalu kunci rumah ini begitu pikirku saat itu. Lama-kelamaan aku udah terbiasa buat sendirian, semuanya dilakuin sendiri, udah biasa banget. Bayangin dari SD udah bawa kunci rumah sendiri? Uh ini pesan tersirat yang orangtuaku kasih sih ke anak-anaknya biar mandiri.

         Sampai pada orangtua aku mutusin aku buat pindah sekolah karena menurut mereka sekolah yang awal aku masuki nggak ngejamin buat masuk SMP favorit. Aku nangis air sungai saat tahu itu, aku kira itu cuma omongan biasa. Eh ternyata mereka bener-bener mutusin buat anaknya pindah sekolah. Aku? Manggut-manggut aja nurut walaupun sedih banget harus pisah sama temen-temen sekolahku yang udah akrab banget sering main. Bisa apa aku waktu itu sebagai anak perempuan yang cengeng. Akupun nerima dan pindah sekolah ke sekolah yang mereka mau. Katanya sekolah yang lebih berkualitas, katanya. Tapi aku ngerti apa waktu itu, kalau protes juga nggak dianggap. Pindah sekolah itu pas aku naik kelas 4 SD dan saat itu aku berjilbab. Rasanya pindah sekolah itu awalnya nggak nyenengin, malah bikin pusing. Harus adaptasi lagi sama lingkungan baru, pembelajaran baru dan temen baru. Tapi nggak lama dari itu juga aku ternyata bisa berbaur sama temen-temen baru yang nyenengin banget. Waktu itu aku sering main ke rumah temen-temenku sampai nggak ingat waktu pulang ke rumah nyampe magriban. Wah, dulu aku emang petualang banget wkwk. Masa SD pun aku habisin dengan main ke rumah temanku yang cukup jauh jaraknya dengan rumahku. Seneng juga, bisa sepedaan bareng, masak makanan, cerita-cerita, cerita horror yang paling aku suka dulu soalnya asik gitu langsung suasana misterius merinding haha. Akupun punya geng di SD, ciaa disebut geng. Ini banyak juga anggotanya dan mereka asik-asik.

         Begitulah secoret pengalaman yang aku tulis buat kalian, kalau lengkapnya bisa pecah juga ini otak wkwk. Seneng dan seru abis masa kecil dulu kalau dikenang. Pengennya main aja terus nggak mikir apapun. Yah tapi gimanapun hidup ini terus maju dan berkembang. Semuanya soal pertumbuhan kan? Sejak kecil yang ria dan sekarang yang dewasa. Semuanya bermetamorfosa.
Salam klasika!

Comments

Popular posts from this blog

Muak dengan Kesenjangan Sosial

         Nilai kebaikan dan kualitas bagus sebagai manusia bukan dinilai dari seberapa banyak harta atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Orang yang cenderung nggak memiliki materi yang cukup banyak nggak dipungkiri kalau sikap dan tingkah lakunya buruk. Nggak gitu arti sebenarnya.         Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan...

Menumbuhkan Esensi Diri

               Sesekali atau bahkan beberapa kali rasa ingin tahuku pada suatu hal sudah terlontarkan semenjak kecil, entah itu bertanya pada diri sendiri atau pada orang lain. Seketika terlintas pemikiran-pemikiran persoalan apa tujuan kita diciptakan dan hal ke-bermanfaat-an apa yang bisa dilakukan diri sendiri pada orang banyak. Aku bahkan nggak mengetahui kalau aku ini penting atau tidak. Orang akan bahagia dengan adanya aku atau nggak sama sekali. Ya hal-hal seperti itulah seringkali melonjak bertanya dalam jiwa.          Mengingat waktu nggak terbatas tapi waktu kita terbatas menjadi sebuah acuan tersendiri dapat tumbuh dan bertahan hingga kini. Entah itu dengan melakukan hal positif sekecil apapun yang bisa membuat waktu lebih sedikit berharga. Ini mengingatkan diri kalau setelah adanya ponsel; gawai  aku sadar waktuku sebagian besar dihabiskan dengan berselancar tanpa arah meng- scroll kesana-kemari ent...

To be Grow

         Seiring berjalannya waktu, konsep, pemahaman, dan perlakuan pasti dituntut untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, dengan umur yang bertambah diharuskan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mengapa begitu? Ada yang bilang itu stereotipe yang berkembang di masyarakat, ada juga ya memang seharusnya begitu proses bertumbuhnya manusia. Tapi, sebenernya dari dalam diri manusianya itu sendiri nggak demikian, jiwa cenderung nggak sadar dengan bertambahnya usia atau tumbuhnya fisik. Tapi karena adanya tuntutan berkembang, manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjadi sedewasa yang dia bisa.          Nggak dipungkiri juga, ada seseorang yang dewasa melebihi usianya. Dia dituntut untuk dewasa karena adanya suatu hal yang dia alami entah itu masalah dalam keluarga, lingkungan, maupun bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan adanya perbedaan masalah dan keadaan pun bisa menjadikan seseorang menjadi dewasa. Menjadi rapuh baginya nggak bisa mengatas...