Skip to main content

Likes & Views

     Eraku ini era dimana semua serba digital, apa-apa internet gercep menunjukkan kelihaiannya. Aku pun dituntut buat bisa menguasai digital ini terutama media sosial. Era dimana isinya nggak hanya serba cepat update informasi tapi juga hal apapun ada dalam internet. Dalam bermedia sosial pun, semuanya terutama anak muda kayak aku, cie muda wkwk. Ya, kita dituntut nggak hanya harus pandai secara teknologi tapi juga harus cerdas milih mana yang bermanfaat dan mana yang nggak. Pastinya banyak orang yang gampang terbuai sama manisnya internet yang bikin kecanduan dan tak tertahankan. Apalagi kalau orang udah suka sama satu hal dan terus pengen update info tentang apa yang dia suka. Suka sih wajar, tapi suka juga ada batasnya ya kan. Suka sama hal yang positif sih bagus-bagus aja asal tahu batasan dan jangan jadi kecanduan. Kalau sukanya dalam hal yang negatif, itu mesti dihilangin dan dibuang secepatnya.

       Dan poin yang pengen aku omongin disini itu tentang pengaruh like dan view yang orang dapat dari media sosial. Yang paling parah ada loh orang yang bisa keganggu atau jadi down gara-gara likes dan views yang dia dapat sedikit. Ada juga yang ngedapetin like banyak terus dia langsung besar kepala dan ngerasa dia yang paling terkenal sedunia, ciaelah. Dia pun ngerasa terpacu buat dapet like banyak lagi dan lagi. Hal ini yang bisa bikin aku mikir kok bisa segitunya ya pengaruh media sosial di kehidupan kita terutama diri kita sendiri. Ada seorang teman, dia bilang gini "orang ini likes fotonya banyak pasti dia bagus nih kualitasnya" begitupun sebaliknya jika likes seseorang sedikit itu berarti kualitasnya kurang. Akupun tercenga mendengar itu, emangnya tingkat kualitas seseorang itu dinilai dari banyaknya followers kah, atau likesnya, kan gak masuk akal. Logikanya dimana?

    Pengaruhnya sebesar itu, sampai orang-orang bisa mikir yang gak ada logikanya sama sekali jadi suatu penilaian tersendiri. Bagiku, media sosial hanya sebagai fasilitas buat mengekspresikan apa yang pengen kita curahkan dan publikasikan ke orang banyak. Aku sih lebih suka nge share hal-hal yang informatif, nggak cuma buat yang liat di sosmedku tapi juga sebagai pengingat diri sendiri yang sangat kekurangan ini huhuu. Mau followersku sedikit atau yang nge like dan nge viewku hanya beberapa orang nggak semata-mata ngurangin niatku buat share hal-hal bermanfaat. Ini diriku dan ini yang pengen aku bagi ke mereka.

      Yang paling kusuka yaitu bikin snap story di instagram maupun whatsapp itu dengan quotes yang aku banget atau petuah-petuah yang bisa diingat kebenarannya. Aku juga suka nge share informasi yang aku baca, entah itu dari website, search by instagram, aplikasi writing word gitu, dan banyak lagi. Karena buatku ini loh yang pengen dikasih tahu sama orang-orang dengan harap mereka sadar dan menyerap dari informasi yang aku kasih. Yang aku tahu kebanyakan teman sebayaku menggunakan platform sosmed hanya buat ajang pembuktian hidup mereka, kan sebenernya bisa dipakai buat banyak hal. Ada satu kebiasaan diri sendiri yang sampai sekarang masih dilakuin yaitu aku nggak terlalu suka kalau ngeliat snap story temen sebayaku entah di instagram maupun whatsapp. Sampai-sampai aku dikatain nggak update soal orang-orang, lucu kan. Tapi bener loh emang nggak suka aja kalau harus terus mantau satu persatu story mereka, kan nggak ada impactnya juga buat diri sendiri malah bisa bikin ngebandingin sama orang lain. Ini sih aku, orang lain beda lagi pemikirannya. Beda itu indah kawan, aku nggak buka story mereka, tapi pas aku buat story mereka ngeliat setiap saat wkwkwk.

      Inget, media sosial cuma dunia maya yang nggak bisa kita jadikan dunia nyata. Setenar apapun di dunia maya tetep yang nomer satu dan yang paling real kita tetep harus jadi sosok berkualitas di dunia nyata. Tapi kita juga nggak bisa ngehindarin majunya dunia digital. Karena dengan menyesuaikan sama perkembangan zaman ilmu kita bisa terus nambah dan jadi kekinian tentunya hahaha.

   Sekian, terimakasih udah baca tulisan yang agak kurang penataan kalimatnya ini. Big hug for you! ;)

Comments

Popular posts from this blog

Muak dengan Kesenjangan Sosial

         Nilai kebaikan dan kualitas bagus sebagai manusia bukan dinilai dari seberapa banyak harta atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Orang yang cenderung nggak memiliki materi yang cukup banyak nggak dipungkiri kalau sikap dan tingkah lakunya buruk. Nggak gitu arti sebenarnya.         Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan...

Menumbuhkan Esensi Diri

               Sesekali atau bahkan beberapa kali rasa ingin tahuku pada suatu hal sudah terlontarkan semenjak kecil, entah itu bertanya pada diri sendiri atau pada orang lain. Seketika terlintas pemikiran-pemikiran persoalan apa tujuan kita diciptakan dan hal ke-bermanfaat-an apa yang bisa dilakukan diri sendiri pada orang banyak. Aku bahkan nggak mengetahui kalau aku ini penting atau tidak. Orang akan bahagia dengan adanya aku atau nggak sama sekali. Ya hal-hal seperti itulah seringkali melonjak bertanya dalam jiwa.          Mengingat waktu nggak terbatas tapi waktu kita terbatas menjadi sebuah acuan tersendiri dapat tumbuh dan bertahan hingga kini. Entah itu dengan melakukan hal positif sekecil apapun yang bisa membuat waktu lebih sedikit berharga. Ini mengingatkan diri kalau setelah adanya ponsel; gawai  aku sadar waktuku sebagian besar dihabiskan dengan berselancar tanpa arah meng- scroll kesana-kemari ent...

To be Grow

         Seiring berjalannya waktu, konsep, pemahaman, dan perlakuan pasti dituntut untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, dengan umur yang bertambah diharuskan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mengapa begitu? Ada yang bilang itu stereotipe yang berkembang di masyarakat, ada juga ya memang seharusnya begitu proses bertumbuhnya manusia. Tapi, sebenernya dari dalam diri manusianya itu sendiri nggak demikian, jiwa cenderung nggak sadar dengan bertambahnya usia atau tumbuhnya fisik. Tapi karena adanya tuntutan berkembang, manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjadi sedewasa yang dia bisa.          Nggak dipungkiri juga, ada seseorang yang dewasa melebihi usianya. Dia dituntut untuk dewasa karena adanya suatu hal yang dia alami entah itu masalah dalam keluarga, lingkungan, maupun bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan adanya perbedaan masalah dan keadaan pun bisa menjadikan seseorang menjadi dewasa. Menjadi rapuh baginya nggak bisa mengatas...