Skip to main content

Hati-hati Ada Bajak Laut Nyanyi

       

          Ini tokoh film favoritku, ini idolaku, semangatku, harapanku eaks. Ini dia kesukaan, eh tapi ada batasannya loh.
Suka itu relatif, beda kesukaan bukan berarti kita musuhan kan. Tapi kadangkala seperti biasa manusia ya beda pilihan aja ributnya minta ampun. Pemilu aja rumpun 1 dan 2 masih dipermasalahkan. Udah kepilih aja masih ada yang kontra berlebihan. Udah biasa lah ya namanya juga manusia. Tapi biasa itu jangan dibiasakan, nanti keenakan bener nggak?

          Ada hal yang paling aku takutkan di dunia hiburan, entah itu film, musik, atau hiburan lainnya. Aku yang sangat nyaman kalau sendirian ini suka banget sama film, musik, ataupun artis-artisnya. Tapi, aku pernah nonton video dan baca tentang illuminate atau iluminati yang mana sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan aliran (oraganisasi) ini alih-alih dipercaya udah dimusnahkan. Akan tetapi masih kental terasa oleh diriku ini disembunyikan dalam aspek kehidupan. Jadi iluminati ini sebuah aliran yang nggak mempercayai agama manapun, mereka punya kepercayaan sendiri yaitu mereka punya tuhan yang disembah bernama Lucyfer dalam arti lain penyembah setan. Tujuan mereka itu membuat kita terbiasa dengan hal-hal yang diharamkan dalam agama, membuat kita menjadi pendosa, mereka seneng tuh. Cara yang mereka lakukan sangat super manipulatif bisa menghibur konsumen dan penikmat dunia hiburan supaya seneng dan terbuai bahkan candu secara nggak sadar. Serem gak tuh? Ih kalau menurutku serem. Contohnya, mereka selipkan pesannya dalam film kartun, adegan endingnya ciuman atau ada juga film kartun lainnya yang sangat jelas menayangkan tokoh kartunnya menyembah Lucyfer ini . Mereka jago banget yah, bikin penonton bisa menerima itu yang padahal sebenernya nggak baik sama sekali. Bahkan sekalipun tontonan anak, mereka selipkan pesan itu dengan beraninya. Anggota mereka ada dimana-mana, entah yang ada disekitar kita ataupun jauh. Mereka tersebar luas di dunia ini entah di politik, sosial, hukum, ekonomi, pokonya ada dalam setiap aspek kehidupan.   

        Dan yang paling parah anggota iluminati ini punya peran besar dan menjadi orang berpengaruh di bidang masing-masing. Mereka pelan-pelan menerapkan ilmu iluminatinya pada kita, pelan-pelan, dengan halus, tanpa kita sadari. Kita nggak mungkin tahu pasti, tapi yang harus kita lakukan terus berhati-hati. Simbol-simbol dan ajarannya kerap sesekali aku temui. Simbol iluminati yang aku tau itu ada segitiga, dua segita yang bersatu terbalik, mata satu, tanda metal yang mengartikan tanduk Lucyfer. Entah benar adanya atau nggak, tapi mau gimanapun kita harus hati-hati. Ada yang percaya dan banyak juga yang menyepelekan tentang iluminati ini.

          Kentara terasa dengan melihat beberapa artis barat, korea, maupun indonesia yang menggunakan simbolnya atau menyisipkan pesan iluminati dalam musik atau film mereka. Film yang pernah aku tonton pun ada berpesankan iluminati. Salah satunya ada film yang salah satu scene nya itu tentang perang salib. Di film ini tuh diyakinkan kalau raja negara muslim berkarakter arogan, yang padahal pada kenyataannya berbanding terbalik. Seolah-olah harus meyakinkan pada penontonnya cerita seperti yang mereka mau. Aku sempat yakin, hampir dan nyaris. Untungnya aku lebih mencari lagi informasinya lebih dalam. Ada lagi dalam musik, banyak lah ya jangan ditanya pesan mereka bertebaran di musik-musik barat dan juga ada salah satu dari negeri Korea. Cerita dan alur dalam lirik lagunya ada yang secara langsung nyuruh ikut aliran setan, bunuh diri ataupun dengan secara tidak langsung tapi menuju pesan itu. Musik mereka laku keras, membludak seketika, bahkan sampai diputar di kampung dan rumah-rumah. Miris iya lihatnya, tapi pelan-pelan aku kasih tahu orang terdekatku tentang iluminati yang ada di dunia hiburan maupun hal lainnya juga.

           Nggak ada yang tahu ada bahaya apa diluar sana, yang pasti keyakinan kita pada agama harus ada dan menjadi sebuah kepercayaan penuh agar kita dijauhkan dari hal-hal yang menuntun kita ke jalan yang salah. Harus bisa memilah mana yang bisa kita terima dan mana yang udah pasti nggak baik. Jangan sampai kita menerima hal-hal negatif terus-menerus secara nggak sadar ya.

          Yang bisa kita lakukan untuk mengingatkan sesama dan tetap berhati-hati ya kawan. Terimakasih, ini penting. Lain kali kalo ngefans (suka) sama suatu hal dilihat dulu ada manfaatnya atau nggak.
Salam klasika!


Comments

Popular posts from this blog

Muak dengan Kesenjangan Sosial

         Nilai kebaikan dan kualitas bagus sebagai manusia bukan dinilai dari seberapa banyak harta atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Orang yang cenderung nggak memiliki materi yang cukup banyak nggak dipungkiri kalau sikap dan tingkah lakunya buruk. Nggak gitu arti sebenarnya.         Banyak orang disekelilingku yang sering menganut pemikiran demikian. Merendahkan diri sendiri yang padahal kita layak kok buat bahagia, buat jadi manusia yang baik. Emangnya yang baik dan memiliki akhlak bagus cuma buat kaum-kaum di atas aja? Nggak sama sekali. Emangnya jadi baik harus punya status seperti profesor atau semacamnya? Yang punya banyak ilmu berarti dia juga bagus akhlaknya? Nggak berarti gitu juga. Menjadi baik adalah milik kita semua yang pengen menjadi baik. Yang tua-muda, miskin-kaya, bertato ataupun bersih, yang lulusnya sampe SD ataupun S3, semua kalangan berhak buat menentukan dirinya pengen menjadi baik atau nggak. Itu pilihan...

Menumbuhkan Esensi Diri

               Sesekali atau bahkan beberapa kali rasa ingin tahuku pada suatu hal sudah terlontarkan semenjak kecil, entah itu bertanya pada diri sendiri atau pada orang lain. Seketika terlintas pemikiran-pemikiran persoalan apa tujuan kita diciptakan dan hal ke-bermanfaat-an apa yang bisa dilakukan diri sendiri pada orang banyak. Aku bahkan nggak mengetahui kalau aku ini penting atau tidak. Orang akan bahagia dengan adanya aku atau nggak sama sekali. Ya hal-hal seperti itulah seringkali melonjak bertanya dalam jiwa.          Mengingat waktu nggak terbatas tapi waktu kita terbatas menjadi sebuah acuan tersendiri dapat tumbuh dan bertahan hingga kini. Entah itu dengan melakukan hal positif sekecil apapun yang bisa membuat waktu lebih sedikit berharga. Ini mengingatkan diri kalau setelah adanya ponsel; gawai  aku sadar waktuku sebagian besar dihabiskan dengan berselancar tanpa arah meng- scroll kesana-kemari ent...

To be Grow

         Seiring berjalannya waktu, konsep, pemahaman, dan perlakuan pasti dituntut untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya, dengan umur yang bertambah diharuskan untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mengapa begitu? Ada yang bilang itu stereotipe yang berkembang di masyarakat, ada juga ya memang seharusnya begitu proses bertumbuhnya manusia. Tapi, sebenernya dari dalam diri manusianya itu sendiri nggak demikian, jiwa cenderung nggak sadar dengan bertambahnya usia atau tumbuhnya fisik. Tapi karena adanya tuntutan berkembang, manusia itu sendiri pun mencoba untuk menjadi sedewasa yang dia bisa.          Nggak dipungkiri juga, ada seseorang yang dewasa melebihi usianya. Dia dituntut untuk dewasa karena adanya suatu hal yang dia alami entah itu masalah dalam keluarga, lingkungan, maupun bagi dirinya sendiri. Jadi, dengan adanya perbedaan masalah dan keadaan pun bisa menjadikan seseorang menjadi dewasa. Menjadi rapuh baginya nggak bisa mengatas...